MOTTO SEKOLAH

Berwawasan Lingkungan dan Kebangsaan Keunggulan Teknologi
Sekolah Unggul Terakreditasi A
Kedisiplinan Ciri Khas SMA Kosgoro Kota Bogor

 PERINGATAN HARI KARTINI  DI SMA KOSGORO

SMA Kosgoro Kota Bogor kembali memperingati hari Kartini pada tanggal 21 April 2017 di sekolah. Upacara diikuti oleh siswa, guru dan karyawan  SMA dengan Pembina upacara Ibu Reni Herawati, S.Pd, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum. Pada upacara ini perempuan mengenakan pakaian kebaya dan pria mengenakan baju batik.

 

 

Reni Herawati mengingatkan dalam sejarah RA Kartini, yaitu  buku rangkuman tulisan-tulisan Kartini Door Duisternis tot Lich yang kemudian diterjemahkan oleh Armijn Pane (1979) menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang, senantiasa menjadi sumber bagi penulisan mengenai Kartini. RA Kartini selama ini kita kenal sebagai seorang pejuang emansipasi perempuan. Kartinilah yang membangun kesadaran orang-orang sezamannya agar kaum perempuan bersekolah, tidak hanya di sekolah rendah tapi juga ke sekolah yang lebih tinggi, sejajar dengan laki-laki. Kartini memelopori berdirinya Sekolah Gadis Jawa pertama di Hindia Belanda (1903) dengan kurikulum yang diciptakannya sendiri, sesuai kebutuhan perempuan Jawa saat itu. Bagi Kartini, perempuan harus terpelajar sehingga dapat bekerja sendiri, mencari nafkah sendiri, mengembangkan seluruh kemampuan dirinya, dan tidak bergantung kepada siapa pun termasuk suaminya. Dalam suasana feodal sekeliling Kartini, pikiran Kartini sangatlah maju dan progresif. Kartini sudah menegaskan emansipasi menjelang usianya yang ke 13 tahun, ketika ia harus meninggalkan bangku sekolah dan memasuki masa pingitan.

Masih banyak yang memandang bahwa kedudukan perempuan yang paling tepat sesuai “kodratnya” adalah menjadi istri bagi suaminya dan ibu bagi anak-anaknya. Perempuan dianggap tidak perlu berpendidikan tinggi, mengembangkan minat dan dirinya, terutama ke wilayah publik, cukup di wilayah domestiknya saja, dalam rumah tangga, ortodoksi ini ditentang Kartini. Padahal kodrat yang dikhususkan oleh Tuhan bagi kaum perempuan adalah haid, hamil dan menyusui. Di luar dari itu, tidak ada perbedaan wilayah minat dan peran antara kaum laki-laki dan perempuan.

Saat ini kita dapat sedikit berbesar hati bahwa cita-cita Kartini untuk meningkatkan pendidikan perempuan sudah cukup berhasil. Bahkan dalam pencapaian prestasi di sekolah, murid yang menduduki peringkat 10 besar, lebih dari 60 persen adalah murid perempuan. Hanya yang menyedihkan dalam dunia kerja, meskipun dengan prestasi yang baik perempuan sangat sulit untuk mendapat kenaikan jabatan, apalagi untuk mencapai kedudukan pimpinan. Masih banyak perempuan yang terkungkung hambatan (unfreedom), terhalang bersekolah karena dikalahkan prioritasnya oleh saudara laki-lakinya karena keterbatasan dana, terutama di desa-desa. Meskipun secara umum, perempuan Indonesia tidak lagi mendapat halangan yang berarti memasuki sekolah setinggi-tingginya. Akan tetapi bila kita melihat cita-cita Kartini di bidang lain seperti bidang perekonomian masyarakat, kebudayaan, dan kebebasan berprestasi, keadaannya masih memprihatinkan. Nasib perempuan masih akan buruk bila perekonomian nasional belum segera tumbuh berkembang, pengangguran yang belum sepenuhnya teratasi menjadi sumber nasib buruk bagi TKW-TKW kita.

“Anak-anakku  jadilah Kartini-Kartini masa kini yang cerdas, berkarater dengan tetap menomor satukan rumah tangga kita, Selamat Hari Kartini,” demikian harapannya.