MOTTO SEKOLAH

SMA KOSGORO MENANGANI SISWA TERLAMBAT SECARA EDUKATIF

Keterlambatan siswa masuk sekolah adalah persoalan klasik yang terjadi di setiap sekolah. Setiap sekolah pasti ada siswanya yang terlambat dengan berbagai alasan seperti bangun kesiangan, kemacetan dijalan, rumahnya jauh dan sebagainya, terlebih sekarang musim penghujan tentu banyak siswa yang terlambat. Setiap sekolah mempunyai cara untuk mendisiplinkan siswanya juga sangat berfariasi, termasuk di SMA Kosgoro Kota Bogor.

 Wakil Kepala Sekolah bidang kesiswaan Sugito Suef menjelaskan bahwa kedisiplinan menjadi ciri khas SMA Kosgoro. Upaya mendisiplinkan siswa dimulai dengan masuk tepat pukul 07.00 dan siswa diberi toleransi sepuluh menit. Khusus dalam penangan siswa terlambat di atur dalam tata tertib sekolah. Dalam tata tertib itu disebutkan siswa yang terlambat masuk jika baru 1-3 kali dicatat oleh guru piket dan diberikan pembinaan. Untuk yang lebih dari tiga kali ditindaklanjuti oleh wali kelas dan BP. Dalam pembinaan  siswa terlambat ditangani oleh guru piket dan Pembina kesiswaan dengan materi pokok adalah latihan baris-berbaris  dan selanjutnya melaksanakan shalat dhuha bagi yang muslim dan kegiatan lainnya yang edukatif. Alasan diberilakan latihan baris-berbaris karena masih banyak siswa yang belum baik dalam baris-berbaris terutama saat mengikuti upacara bendera. “Kami telah menyiapkan tenaga khusus dari purnawirawan TNI untuk membantu di kesiswaan  yang bidang tugasnya diantaranya penangan siswa terlambat ini terutama dalam baris-berbaris. Dengan penanganan siswa terlambat seperti ini siswa mendapat pendidikan yang baik meskipun tidak  diizinkan masuk selama dua jam pelajaran,” demikian penjelasan Sugito.

 Kepala SMA Kosgoro Tri Atmojo menambahkan  bahwa penangan  siswa yang tidak tertib termasuk yang terlambat  ada beberapa tahapan penangannya mulai dari usaha preventif, persuasive, dan represif. Usaha preventi yaitu dengan melakukan sosialisasi tata tertib sekolah ke siswa dan orang tua pada awal tahun ajaran baru yang diulang-ulang di setiap ada kesempat. Usaha persuasive  dilakukan dengan cara membujuk atau mengarahkan yang diklakukan oleh guru piket, wali kelas atau guru BP atau mengundang nara sumber lain seperti dari kepolisian, dinas kesehatan.  Sedangkan tidankan represif disini penekanan pada sanksi yang diberikan oleh sekolah sesuai yang tercantum di buku tata tertib siswa, seperti siswa yang terlambat tiga kali dihitung sebagai satu kali alpha. “Kuncinya dalam penangan siswa ini adalah guru harus tetap dalam koridor sekolah sebagai wiyata mandala dengan berpegang pada tata tertib sekolah. Kami berharap para guru tetap memberikan pelayanan yang terbaik, andaikata harus menghukum maka hukuman itu harus edukatif dengan tujuan untuk perbaikan kepribadian siswa.,” tegas Tri Atmojo.